Sebuah tempat yang kusebut " Rumah "

08.04

Sebuah bangunan sederhana berdiri tegak dihadapanku. Sebuah bangunan yang agak terlihat kusam namun tak kehilangan kegagahannya. Bangunan ini memang telah lama dihuni oleh keluarga kami. Warna cokelat yang nampak begitu mendominasi tampak begitu kontras dengan tanaman-tanaman liar serta rumput berwarna hijau yang tumbuh disepanjang pekarangan. Berjalan beberapa langkah memasuki pekarangan, mata kita akan dimanjakan oleh beberapa pot berisi bunga, ada kamboja yang berwarna merah jambu, ada ada bunga lain yang tak kutahu apa namanya serta beberapa tanaman obat yang memang sengaja ditanam oleh sang empunya rumah. Namun sekarang bunga-bunga itu tak lagi secantik dulu. Banyak yang telah layu dan mati karena kurang terawat..T_T


Memang ibu kami adalah seorang wanita yang suka tanaman meskipun ia tak cekatan seperti bapak yang telah menghabiskan hampir separuh umurnya untuk berkebun. Dan karena ibu tak terbiasa ke kebun jadilah ia menyulap sebagian teras kami untuk tempatnya menanam bunga dalam pot. Setiap sore beliau akan menyirami sendiri tanaman kesayangannya itu, namun apabila beliau terlalu sibuk maka ia akan meminta adikku untuk menyiraminya agar tak layu.

Sedikit masuk ke dalam rumah, kita akan langsung memasuki sebuah ruangan berwarna hijau dengan sebuah sofa cokelat yang sebagian telah koyak. Sebuah lukisan Tanah Haram terpajang anggun di dinding ruangan. Inilah ruang tamu kami. Tempat kami menerima kunjungan dari keluarga lain, atau bahkan tempat kami bertatap muka dengan orang asing yang pada akhirnya akan menjadi teman kami, meskipun tidak semuanya
.
Sedikit masuk agak kedalam akan terlihat sebuah ruangan yang normalnya akan disebut “ ruang keluarga”, namun di rumah kami, sepertinya ruangan itu tidak berfungsi sebagaimana mestnya, Walaupun kadang-kadang kami akan berkumpul disana sesekali. Warna hijau tetap mendominasi ruangan ini. Selain itu berbatasan dengan ruangan ini, ada dua kamar terpisah, kamar ibu dan kamar bapak serta satu kamar lagi yang menjorok agak kedepan, disitu idealnya digunakan sebagai ruang tidur tamu, namun entah kenapa ruangan itu menjadi semacam gudang di rumah ini. 

Agak kedalam lagi akan kita jumpai sebuah dapur dimana sang ibu rumah tangga berperan penting dalam keluarga kami, ya menyiapkan makanan untuk anggota keluarga yang lain. 

Itulah gambaran sederhana tentang sebuah tempat yang kusebut “ Rumah “. 

Dulu rumah ini tampak begitu sesak dengan banyaknya anggota keluarga yang ada didalamnya. Namun sekarang rumah ini sebaliknya, Dengan hanya dihuni oleh tiga orang, yaitu bapak, ibu dan adikku, semuanya terasa begitu sunyi. Seperti yang kalian tahu aku dan kedua adikku tinggal ditempat yang terpisah dengan kedua orang tua kami. Jadilah rumah itu semakin hari semakin sunyi saja, namun keadaan akan sangat berubah ketika kami semua berkumpul di rumah ini. Seperti pada saat bulan Ramadhan rumah akan kembali ramai oleh kegaduhan kami. Dan inilah saat yang sebenarnya sangat dirindukan oleh ibu kami, Ketika kami anak-anaknya dapat berkumpul dan makan bersama di rumah ini. Ibu kami akan menyambut kami dengan senyuman dan tawa khas yang renyah, ah for me she is the real mom...!!!

Sebuah tempat yang kusebut “ rumah “ adalah sebuah tempat dimana aku bisa menemukan orang-orang yang bisa menerima aku apa adanya. Sebuah tempat dimana aku bisa menjadi diri sendiri tanpa berusaha menjadi orang lain. Sebuah tempat dimana ada orang-orang yang senantiasa mengasihi dan menyayangiku. Sebuah tempat dimana aku bisa berkeluh kesah dengan semua perasaan yang kumiliki. 

Sebuah tempat yang kusebut “ rumah”, mungkin tak akan seindah tayangan sinetron yang sering kalian nikmati,dan mungkin tak akan seindah dongeng-dongeng yang sering diperdengarkan pada saat kalian beranjak tidur. Rumah yang kumiliki adalah sebuah rumah yang memang jauh dari kata ideal dan bahagia. Namun rumah yang aku punya adalah sebuah rumah dimana aku bisa belajar banyak hal. Belajar memang tak harus dari sesuatu yang membahagaikan kan? 

Sebuah tempat yang kusebut “ rumah” adalah sebuah tempat belajar. Tempat buat kita para penghuninya belajar kehidupan untuk pertama kalinya. Sebuah tempat bernama “rumah” adalah lebih dari “ rumah “ itu sendiri. Karena disanalah kita akan datang dan disanalah pula kita akan kembali ke sebuah “ rumah” yang jauh lebih abadi, ^^.

*tulisan yang kutulis ketika sedang menunggu sesorang yang kupanggil' kakak' ditemani oleh tetesan hujan yang semakin deras ^^

Artikel Terkait

Previous
Next Post »