CCC 1 (Cerita cinta Chacha)

06.45 0


Chacha nama gadis itu.
 Gadis dengan tubuh minimalis, sedikit tomboy namun manis. Gadis yang tahun ini genap berusia 20 tahun. Ah gadis yang riang namun seringkali menyebalkan.
Di kampus biru ini aku banyak mengenal orang baru, termasuk gadis satu ini. Beberapa kali dia curhat padaku dan dari beberapa kali itu aku semakin mengenal dirinya.

Chacha sebenarnya gadis yang cukup menarik dan manis, namun ia terlalu rendah diri menurutku. Percaya dirinya yang kurang senantiasa membuatnya terkungkung dalam rasa ragu yang sering membuatnya berdiam diri. Padahal dengan sikapnya yang pantang menyerah dan rasa tanggung jawab yang ia miliki aku yakin ia bisa menjadi sosok hebat lebih dari dia yang sekarang. Termasuk dalam urusan cintanya.

Ya Cinta, urusan yang sering aku tepis keberadaanya, namun tidak demikian bagi Chacha.
Dari semester awal kami di kampus biru, ia jatuh cinta pada seorang senior. Seorang mahasiswa tingkat 3, bergaya cuek, cenderung pemberontak dan slenge’an itu telah menancapkan sejuta rasa melalui kilatan matanya yang tajam pada sahabatku pada awal pertemuan mereka. 

Ah… kedengarannya absurd memang, tapi tidak bagi Chacha. Dunianya berubah setelah bertemu dengan lelaki itu, sebut saja dia Rama. Dunia Chacha yang semula monoton, sekarang berubah menjadi lebih berwarna. Ada warna cinta, rona bahagia ketika mengingat sang pemilik mata elang itu, wajah yang bersemu merah tiba-tiba ketika kami meledeknya atau ketika tanpa disangka Rama melintas didepan kami, atau wajah yang tiba-tiba mendung ketika salah satu teman kami berseloroh bahwa Rama sekarang sudah dengan orang lain. 

Pada awalnya aku mengira semuanya hanya akan bertahan beberapa lama, paling setelah beberapa waktu dia akan jenuh dan lupa pada perasaannya itu. Tetapi ternyata dugaanku, dan dugaan sebagian besar teman-temanku salah besar. Ternyata sampai hari ini, detik ini, setelah 1 tahun berlalu, Chacha masih tetap bertahan pada rasa cintanya itu.



 Ah….Sahabatku ternyata kau memang sedang jatuh cinta…….

Setiap hari memperhatikanmu,ada rasa kagum dan salut padamu. Kagum karena sebagai wanita kau telah menunjukkan sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang wanita sejati, teguh memegang rasa cinta dan setia. Namun aku kadang-kadang miris melihatmu, kasian melihatmu harus melukis mendung diwajah mu karena engkau dirundung galau yang tak berujung.
Ah…cahaya cinta kadang-kadang menyilaukan….

Cahaya cinta  yang hadir dalam hidupmu bisa membuat hidupmu jauh lebih bersinar. Dan cahaya itu juga mampu membakar hatimu dengan sejuta cemburu.

Sementara Rama cowok si mata elang itu,
Pernahkah ia menyadari bahwa ada seorang gadis yang diam-diam menaruh hati padanya. Pernahkah ia menyadari bahwa ia telah mengisi sudut hati seorang gadis yang sangat mengaguminya setahun belakangan ini. Ah Rama, tahukah  engkau telah membuat seorang gadis menikmati harinya dengan karena dirimu. Tahukah, hanya dengan melihat sekelebat wajahmu kau mampu menyingkirkan awan duka yang menggelayut diwajah seseorang…

Aku ingat dengan jelas ketika Chacha sahabatku, berkisah bahwa ia bingung akan dibawah kemana perasaanya sekarang ini. Ia tidak ingin mengungkapkan perasaannya secara frontal kepada Rama, karena ia tidak mau berpacaran. Namun disisi lain ia juga tidak mampu menahan perasaannya terus- menerus. Perasaan itu semakin lama semakin menggedor-gedor pintu hatinya untuk segera diungkapkan. Mendengar pengakuanmu entah kenapa aku juga ikut-ikutan galau……
Aku sampai detik ini masih berfikir, sebegitu besarkah efek cinta mampu mengubah seseorang. Mampu mengubah mendung menjadi awan yang cerah. Dan begitu pula sebaliknya. 

Kadang-kadang aku bertanya dalam hati,
Akankah Chacha mampu bertahan tetap mencintai si pemilik “mata elang”?
Akankah Rama mengetahui perasaan seorang gadis yang hanya sekelebat dikenalnya itu?
Akan bermuara dimanakah kisah cinta ini?
Akan sesuai harapan Chacha kah?
 Atau mungkin sang Maha Kuasa memilki caranya sendiri untuk membuat Chacha bahagia?
 Ah…pertanyaan-pertanyaan ini....
Hanya Allah yang tahu kemanakah jalan takdir membawa kisah ini……..
                                                                                                (to be continued)

Namun apapun Takdir itu, aku sebagai sahabatmu berharap semua ini berujung pada akhir yang bahagia.

Note : Tulisan ini kudedikasikan untuk seorang gadis, sahabatku, saudaraku yang membuatku menyadari bahwa tak ada alasan yang tepat kenapa engkau bisa jatuh cinta. Ketika membaca tulisan ini semoga engkau mampu memaknai bahwa cinta bukan hanya sekadar memberi namun cinta itu sebuah pengorbanan. Dan muara dari sebuah cinta adalah mampu menjadikanmu orang yang ikhlas, ikhlas untuk jalan takdirmu. Karena Allah tahu apa yang kau butuhkan. Tetaplah jadi gadis bersahaja. Tetaplah hadir bagiku, dan semua orang yang mencintai dan mengasihimu…..Tetaplah menjadi dirimu sendiri.









Cinta dan Ikhlas

22.49 1

Cinta
Cinta itu ketika kamu bisa menjadi lemahdan menangis ketika dia tidak ada disampingmu.
Cinta itu ketika kamu memiliki semangat yang berlipat ketika melihat senyumannya dipagi hari.
Cinta itu ketika kamu menjadi kuat setelah jatuh hanya dengan mengenggam tangannya.
Cinta itu ketika kamu merasa cemburu jika ia bersenda gurau dengan riang selain dengan dirimu.
Cinta itu ketika kamu merasa galau yang berkepanjangn ketika ternyata ia tak memilihmu untuk melabuhkan hatinya.

Cinta memang sangat menyenangkan, sangat melenakan dan sangat membuai para penikmatnya.
Namun tahukah kamu ada sesuatu yang jauh lebih indah dari cinta. Sesuatu yang amat sangat dirindukan oleh orang tuamu,oleh saudara-saudaramu,oleh sahabat-sahabatmu, bahkan sangat dirindui oleh Dzat Penciptamu.

Ikhlas



Ikhlas itu ketika kamu bisa menerima saat dia tak lagi disampingmu.
Ikhlas itu ketika kamu tidak sedih saat dia tak lagi memberikan senyumnya padamu dipagi hari.
Ikhlas itu ketika kamu tetap sabar pada saat terjatuh, dia tak lagi ada untuk menggenggam tanganmu atau hanya sekedar menghalau butiran debu yang menempel dipakaianmu.
Ikhlas itu ketika kamu merasa bahagia melihat dia berbagi senda gurau dan tawanya pada yang lain.
Ikhlas itu ketika kamu dan perasaanmu terabaikan olehnya, kamu tersenyum dan mengerti ternyata dia bukanlah orang yang tepat yang dipilihkan Allah untuk menghabiskan waktu dan umurmu. 

Ikhlas adalah penerimaan tertinggi kita akan ketetapan hidup yang berlaku.
Ikhlas jauh lebih bermakna daripada cinta.
Dalam cinta bisa saja terdapat kilatan nafsu yang mampu mencabik-cabik kesuciannya.
Namun dalam ikhlas,hanya ada penerimaan yang apa-adanya.
Penerimaan terhadap ketidaksempurnaan yang ada.
Penerimaan yang tulus dalam hidup.
Penerimaan yang tak pernah mengharapkan balasan apa-apa.
Penerimaan yang hanya mengharapkan ridha dari Dzat Penuh Cinta. Allah Swt. ^^


 Note : saat tulisan ini ditulis aku masih belajar memaknai dan memahami makna cinta dan ikhlas sesungguhnya.




C Zone yang "berbahaya"

22.11 0

Comfort Zone
Comfort Zone atau Zona nyaman, selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi orang-orang yang berada didalamnya. Zona dimana kita sebagi pribadi merasa sangat nyaman, aman tenteram sentosa. Zona dimana kita enggan dan malas untuk kemana-mana. Zona dimana everything seems fun


C zone aku menyebutnya. 

Zona yang banyak diinginkan orang, zona yang selalu diimpi-impikan orang.  Maka tidak aneh rasanya ketika untuk meninggalkan zona ini begitu berat dan spertinya sangat menyedihkan.
Ketika seseorang sudah berada di zona nyamannya maka akan berat untuk meninggalkannya. Karena semua yang kita butuhkan dan kita inginkan sudah tersedia.a Lebih berat lagi bagi seseorang yang sudah sejak lahir sudah menetap di zona itu. Begitulah yang aku rasakan sekarang. Walaupun tidak lahir dari keluarga yang kaya raya, namun hidupku tidak melarat juga. Ya menengahlah, kalo kata pedangdut Veti Vera “ sedang-sedang saja” :P
Ibuku adalah seorang ibu yang selalu berusaha menuruti keinginan anaknya dan senantiasa berusaha membahagaiakan anaknya semaksimal yang ia mampu. Karena sepertinya telah dbiasakan dari orok, jadilah aku yang sekarang. Seseorang yang selalu merasa nyaman dengan keadaan yang monoton dan itu-itu saja. Seseorang yang akan sangat keberatan jika keluar dari zona nyaman. Dan jadilah aku pribadi yang “agak manja, agak cengeng”.
Dan itu mulai kurasakan ketika beranjak dewasa, masih sering bersikap kekanak-kanakan. Tumbuh menjadi pribadi yang tidak tahan gertak, tidak tahan kritik dan pastinya tidak tahan banting ( ya iyalah, mang situ petinju :p).
Sudah beberapa kali aku ikut seminar, membaca buku-buku motivasi dimana rata-rata solusi yang ditawarkan untuk menjadi orang yang lebih baik adalah “ berani keluar dari zona nyaman anda”.
Dan disinilah susahnya. Aku belum bisa keluar dari zona nyamanku. Masih sering merasa keberatan jika meninggalkan zona itu. Tapi setelah berpikir lagi dan lagi, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa, buku-buku ataupun seminar yang aku ikuti tidak akan pernah bisa mengubahku menjadi orang yang lebih baik, jika aku masih tetap nyaman berleyeh-leyeh di zona itu maka kemungkinan besar dimasa depan aku akan menjadi seorang “pecundang”, seseorang yang manja dan tidak pernah becus melakukan sesuatu.



Kesimpulan terakhir yang aku dapat adalah aku memang harus keluar dari zona nyamanku, berusaha menikmati kemalangan dan tantangan hidup, berusaha dan belajar melihat betapa banyaknya orang yang tidak seberuntung diriku. Betapa aku harus bersyukur untuk semua hal yang dianugrahkan sang Maha Pencipta padaku. Betapa aku harus belajar dan terus belajar.
Keluar dari zona nyaman akan membuat kita merasakan sensasi-sensasi hidup yang berbeda dan pastinya lebih berwarna. Keluar dari hal yang biasa walaupun susah dan berat namun pada akhirnya akan membuat kita mengenal kehidupan yang LUAR BIASA. Betapa banyaknya pelajaran hidup yang terserak menjadi mozaik-mozaik hikmah yang menunggu kita menjemputnya. Hikmah yang akan kita dapatkan hanya bila kita berani keluar dari kamar kita yang serba nyaman dan lengkap dengan fasilitasnya, berani keluar dari kehidupan yang serba monoton.
Cobalah dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu, mulai perlahan-lahan namun jangan pernah ditunda. Karena semakin lama memulai si C zone akan semakin menjerat kita. ^^

Note :
Ketika tulisan ini ditulis, aku juga sedang berjuang untuk meninggalkan zona nyamanku. Walaupun pelan-pelan namun aku optimis semuanya akan berhasil. ^^





Belajar itu berproses

06.21 0

Aku kembali merenung dan berfikir setelah membaca tulisan tadi. Tulisan yang diposting salah satu anggota di klub menulis online itu. Ya tulisan itu kembali memberikan semangat baru untuk menulis. Dalam tulisan itu dijelaskan bagaimana cara menjadi penulis novel dalam seratus hari. Walaupun terdengar agak meragukan namun ternyata sebagian penulis  bisa melakukan itu. Caranya dengan menyisihkan satu jam dari 24 jam yang kita miliki untuk menulis. Bayangkan jika hal itu bisa rutin kita lakukan. Maka tidak mustahil rasanya muncul tulisan seperti itu.
Ya selama aku bergabung dengan salah satu forum diskusi online tentang menulis disalah satu social network, aku mulai mengenal hal-hal baru. Hal-hal yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Aku berkenalan dengan beberapa anggota lain. Ternyata mereka adalah orang-orang hebat yang telah banyak menciptakan karya-karya luar biasa. Mereka sosok sederhana, namun mengesankan. Aku sebagai anggota baru sejujurnya minder dan merasa canggung dengan mereka. Namun kuberanikan diri untuk ikut memberikan komentar pada saat kelas sedang berjalan. Walaupun kebanyakan komentarku itu agak kurang penting, tapi ya sudahlah. Aku menganggap itu sebagai bagian dari sebuah proses belajar. Mungkin sekarang aku belum bisa berkontribusi apa-apa selain memberikan komentar-komentar sederhana, tapi aku punya pengharapan yang besar bahwa dari diskusi yang aku ikuti aku akan bisa menjadi “ seseorang”. 
Aku yakin semua berawal dari ketidaktahuan yang kemudian  membuat rasa ingin tahu semakin membuncah dan dari sanalah semua mulai berproses. Dari rasa ingin tahu kita akan belajar. Kita akan berusaha memuaskan rasa ingin tahu kita dengan jawaban-jawaban yang ada. Dan proses seperti itu akan berulang secara alami terus-menerus. Dan inilah yang sedang aku jalani sekarang. Aku ingin tahu dan bisa menjadi seorang penulis, aku bergabung dengan sebuah klub dan aku belajar dan berbaur disana.


Sebenarnya aku terlalu cepat menuliskan hal ini, karena aku memang sangat baru bergabung. Namun inilah bagian dari proses belajar itu. Aku mulai menulis dengan sesuatu yang sederhana. Belajar untuk merangkai kata-kata, belajar untuk menuangkan pikiran dalam bentuk tertulis.
Aku akan belajar dengan baik, mengambil ilmu yang bisa aku dapatkan dari sana. Mencoba menulis dari hal-hal kecil. Aku yakin semakin aku menekuni semua ini, semuanya akan lebih baik. ^^