Tampilkan postingan dengan label MotivaLog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MotivaLog. Tampilkan semua postingan

Kisah uang 1000 dan uang 100000

06.42 0

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapimengalami nasib yang berbeda.Keduanya sama-sama dicetak di PERURIdengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik.Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribubertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.
Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :"Ya, ampiiiuunnnn.………. darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan…… bau!
Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ….. Ada apa denganmu?"
it's very different T_T

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata :"Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tigahari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. 
Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur,saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuhdengan darah dan taik ayam.
Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke 'baluang' (pren : tau kan baluang…?) Inang-inang. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh,karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas……."
Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: "Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, akudisimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana , aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yangbagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan…… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu."
Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :"Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!"
"Apa itu?" uang seratus ribu penasaran.
"Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau ditempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana….."

Semoga menjadi refleksi sederhana tapi berbobot bagi kita semua.^^
source : freestress.com

Ketika Aktivitas Menjadi Membosankan....

07.36 2



Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.

Ada seseorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia sangat rajin membaca.

Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup, yang bisa mengubah benda apa saja menjadi emas. Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut, ia segera berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu.

Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang. Seperti halnya bila kita menyentuh mahluk hidup lainnya. Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam genggamannya dingin-dingin saja.

Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kedalam laut. Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu. Kini menggenggam dan membuang batu adalah kebiasaannya.

Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun karena telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itu pun tak luput terbang ke laut dalam. Lelaki miskin itu melanjutkan ‘ permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini telah lupa apa yang sedang dicarinya.

Pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah sebuah rentetan perulangan yang membosankan?

Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya. Kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah. Lalu pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktivitas lainnya, sperti belajar, menonton tv, tidur. Keesokan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, melakukan aktivitas seperti hari kemarin. Hal itu berulang kali kita lakukan bertahun-tahun ! Hingga akhirnya tiba saatnya menginjak ke fase berikutnya : bekerja.

Bekerja tak jauh beda dengan bersekolah. Kita harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, lalu pulang pada sore hari. Kemudian kita tidur. Keesokan harinya kita harus kembali bekerja lagi, dan melakukan aktivitas yang sama seperti kemarin. Sampai kapan?

Pernahkah kita merasa bosan dengan aktivitas hidup kita?

Jika anda menjawab ya, maka dengarlah nasehat ini :

“ Bila hidup ini Cuma suatu rentetan perulangan yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di balik setiap peristiwa hidup…”

Artinya, jangan melihat aktivitas yang kita lakukan ini sebagai kebiasaan atau rutinitas, karena jika menganggap demikian, maka aktivitas kita akan amat sangat membosankan !!!

Cobalah maknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kita akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Sesuatu yang membuat hidup kita lebih “kaya”.

“ Setiap hari merupakan hadiah baru yang menyimpan sejuta arti.”

Setuju???


Risalah Sore ini

Risalah Sore ini

01.48 0
“ Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti matahariMu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetikpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua. Pergi dan tak pernah kembali lagi.”

“ Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak akan memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang beum diciptakan dan tidak ada satupun darinya yang dapat kusebutkan.”

“ Hariku adalah hari ini “
 Hari dimana aku biasa menikmati nasi yang hangat, dapat meminum air yang jernih, dapat menghirup udara yang segar dan bersih.

“ Hariku adalah hari ini “
 Hari dimana aku akan menyibukkan diri untuk memperbaiki keadaan, mengembangkan potensi dalam diriku dan mensucikan setiap amalanku.

“ Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah Swt, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat sunnah nafiah, berpegang teguh pada Al-qur’an, mengkaji segala yang bermanfaat, dan mempelajari ilmu yang akan menjadikanku orang yang lebih baik bagiMu. ”


"La Tahzan- Jangan bersedih"


Sepotong Doa PadaMu ya Rabb..

Sepotong Doa PadaMu ya Rabb..

07.39 0


Rabb,

Kau dapati kami dalam lumuran dosa
Kaulah yang membersihkan

Kau dapati kami dalam kekfakiran
Kaulah yang mencukupi

Kau dapati kami dalam kelemahan
Kaulah yang menguatkan

Kau dapati kami dalam ketakutan
Kaulah yang melindungi

Kau dapati kami dalam keputusasaan
Kaulah yang menghibur

Kau dapati kami dalam kejahilan
Kaulah yang memuliakan

Untuk itu, bersihkanlah, cukupilah, kuatkanlah, lindungilah, hibur serta muliakanlah kami dengan rahmat dan kasih sayangMu yang tiada bertepi…


(hamba Allah)


" JEJAK "

04.22 0

Langkah yang tercipta dari sebuah pijakan yang terus menerus terulang. Hingga meninggalkan jejak yang akan dikenang bumi. Entah jejak itu memberikan warna merah, hitam ataupun kelabu. Akankah jejak yang kutinggalkan akan tetap disana atau terhapus oleh jejak yang baru.  Namun yang kutahu Jejak yang kutinggalkan tidak akan pernah sama dengan orang lain. Karena jejakku dan jejakmu adalah kenangan kita masing-masing.


Jejak yang membedakan kita