Comfort Zone
Comfort Zone atau Zona
nyaman, selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi orang-orang yang berada
didalamnya. Zona dimana kita sebagi pribadi merasa sangat nyaman, aman tenteram
sentosa. Zona dimana kita enggan dan malas untuk kemana-mana. Zona dimana everything seems fun.
C zone aku menyebutnya.
Zona yang banyak diinginkan
orang, zona yang selalu diimpi-impikan orang.
Maka tidak aneh rasanya ketika untuk meninggalkan zona ini begitu berat
dan spertinya sangat menyedihkan.
Ketika seseorang sudah
berada di zona nyamannya maka akan berat untuk meninggalkannya. Karena semua
yang kita butuhkan dan kita inginkan sudah tersedia.a Lebih berat lagi bagi
seseorang yang sudah sejak lahir sudah menetap di zona itu. Begitulah yang aku
rasakan sekarang. Walaupun tidak lahir dari keluarga yang kaya raya, namun hidupku
tidak melarat juga. Ya menengahlah, kalo kata pedangdut Veti Vera “
sedang-sedang saja” :P
Ibuku adalah seorang ibu
yang selalu berusaha menuruti keinginan anaknya dan senantiasa berusaha
membahagaiakan anaknya semaksimal yang ia mampu. Karena sepertinya telah
dbiasakan dari orok, jadilah aku yang sekarang. Seseorang yang selalu merasa
nyaman dengan keadaan yang monoton dan itu-itu saja. Seseorang yang akan sangat
keberatan jika keluar dari zona nyaman. Dan jadilah aku pribadi yang “agak
manja, agak cengeng”.
Dan itu mulai kurasakan
ketika beranjak dewasa, masih sering bersikap kekanak-kanakan. Tumbuh menjadi
pribadi yang tidak tahan gertak, tidak tahan kritik dan pastinya tidak tahan
banting ( ya iyalah, mang situ petinju :p).
Sudah beberapa kali aku
ikut seminar, membaca buku-buku motivasi dimana rata-rata solusi yang
ditawarkan untuk menjadi orang yang lebih baik adalah “ berani keluar dari zona
nyaman anda”.
Dan disinilah susahnya. Aku
belum bisa keluar dari zona nyamanku. Masih sering merasa keberatan jika
meninggalkan zona itu. Tapi setelah berpikir lagi dan lagi, aku bisa mengambil
kesimpulan bahwa, buku-buku ataupun seminar yang aku ikuti tidak akan pernah
bisa mengubahku menjadi orang yang lebih baik, jika aku masih tetap nyaman
berleyeh-leyeh di zona itu maka kemungkinan besar dimasa depan aku akan menjadi
seorang “pecundang”, seseorang yang manja dan tidak pernah becus melakukan
sesuatu.
Kesimpulan terakhir yang
aku dapat adalah aku memang harus keluar dari zona nyamanku, berusaha menikmati
kemalangan dan tantangan hidup, berusaha dan belajar melihat betapa banyaknya
orang yang tidak seberuntung diriku. Betapa aku harus bersyukur untuk semua hal
yang dianugrahkan sang Maha Pencipta padaku. Betapa aku harus belajar dan terus
belajar.
Keluar dari zona nyaman
akan membuat kita merasakan sensasi-sensasi hidup yang berbeda dan pastinya
lebih berwarna. Keluar dari hal yang biasa walaupun susah dan berat namun pada
akhirnya akan membuat kita mengenal kehidupan yang LUAR BIASA. Betapa banyaknya
pelajaran hidup yang terserak menjadi mozaik-mozaik hikmah yang menunggu kita
menjemputnya. Hikmah yang akan kita dapatkan hanya bila kita berani keluar dari
kamar kita yang serba nyaman dan lengkap dengan fasilitasnya, berani keluar dari
kehidupan yang serba monoton.
Cobalah dengan hal-hal yang
kecil terlebih dahulu, mulai perlahan-lahan namun jangan pernah ditunda. Karena
semakin lama memulai si C zone akan semakin menjerat kita. ^^
Note :
Ketika tulisan ini ditulis,
aku juga sedang berjuang untuk meninggalkan zona nyamanku. Walaupun pelan-pelan
namun aku optimis semuanya akan berhasil. ^^


EmoticonEmoticon