Galau….galau dan galau
Inilah perasaanku
beberapa hari ini. Rasa jenuh yang mengurangi semangat. Ditambah lagi berita
yang disampaikan ibu lewat telepon tadi. Entahlah bagaimana aku harus bersikap
dengan semua ini. Apakah menganggap ini musibah atau justru anugerah???
Ibu akan berpisah
dengan bapak.
Seperti biasa
setelah bertengkar hebat. Ibu memutuskan untuk berpisah. Sebenarnya dari dulu
aku telah mengira semua ini akan terjadi. Entah kemarin, besok atau lusa.
Lambat laun hal itu akan terjadi juga. Jadi sebenarnya mentalku sudah terbiasa dengan
hal ini.
Sejak kecil aku
dan adik-adik sebenarnya telah terbiasa dengan pertengkaran hebat dlam keluarga
kami. Pertengkaran yang selalu diakhiri dengan perginya ibu dari rumah. Aku dan
adik-adik yang menyaksikan pertengkaran itu sebenarnya belum mengerti betul apa
duduk persoalan yang sebenarnya. Kami terlalu kecil untuk mengerti masalh rumit
yang dihadapi bapak dan ibu. Yang aku ingat hanya suara tinggi yang
bersahut-sahutan sampai kedengaran tetangga kami. Suara perabotan rumah yang yang
dibanting dan makian kasar yang dikeluarkan oleh keduanya. Yang aku tahu
setelah bertengkar ibu akan pergi dari rumah untuk beberapa lama. Dan kami akan
menginap dirumah nenek. Tetangga juga mengenal bapak dan ibu sebagai pasangan
yang bermasalah.
Semakin kesini
akhirnya aku dan adik-adik semakin mengerti keadaan keluarga kami. Keluarga
kami tidak seperti keluarga teman-teman yang lain. Teman-temanku memiliki
keluarga yang bahagia. Bapak dan ibu yang saling mencintai,saling menghargai
dan menghormati satu sama lain. Bapak yang menyayangi anak-anaknya, senantiasa
menjadi tempat anak-anaknya bercerita, bapak yang bisa diajak bercanda dan
tertawa bersama. Bapakku bukan sperti itu, dia orang yang kaku kepada
kami,namun entah mengapa kalau dengan anak-anak tetangga dia sangat ramah dan
bersahabat. Diluar rumah dia bisa menjadi lelaki yang menyenangkan, pemurah dan
baik hati. Namun setelah sampai dirumah perangainya berubah 360%. Dia menjadi
orang lain yang super meyebalkan bagi kami. Dia menganggap aku,adik-adik dan
ibu seakan-akan orang asing dirumah itu.
Aku dan adik-adik
dibesarkan dengan hal-hal seperti itu. Dengan kasih sayang yang tidak seimbang
antara bapak dan ibu. Maka wajrlah rasanya kami tumbuh menjadi anak-anak yang
kasar, pemalu, maunya menang sendiri, tertutup dan tidak bisa berbagi cerita
dengan orang lain. Sosok bapak tidak
pernah kami kenal. Hanya sosok laki-laki kasar dan semaunya yang kami kenal.
Kami kekurangan kasih sayang dari sosok yang harusnya selalu ada bagi keluarga
kami.
Kusadari ataupun
tidak, aku senantiasa iri dengan anak-anak yang lain. Aku juga ingin punya
bapak sperti mereka. Sangat ingin. Aku merindukan sosok bapak. Sangat
merindukan ssok pemimpin keluarga seperti seharusnya. Hmh.,,,,,setiap hari aku
senantiasa berharap semoga dia bisa berubah,namun akhir-akhir ini kelakuannya
tambah menjadi-jadi. Sampai-sampai ibuku yang kukenal sebagi wanita yang sangat
sabar ternyata sudah tidak tahan dengan bapak. Dan keputusan itupun diambil……
Yah, keputusan
untuk berpisah….
Aku bisa memahami
kenapa semua ini terjadi. Namun yang tidak aku pahami kenapa sikap bapak kepada
kami sperti itu. Apa alasan yang membuat dia memperlakukan kami sperti itu. Aku
belum bisa jalan pikirannya, belum bisa menebak apa yang ia pikirkan. Hanya dia
dan Allah yang tahu apa sebenarnya yang ada dalam hatinya. Aku juga tidak mau
menerka-nerka.
Biarkanlah semua
ini berjalan seperti seharusnya,,aku sudah pasrah apapun yang terjadi….Perasaannku
juga sudah dari dulu berubah, hampa, hambar dan semuanya menjenuhkan.
Kehangatan keluarga tidak pernah aku rasakan, walaupun dalam hari Besar sperti
hari Raya. Mereka juga tetap bertengkar. Itu yang membuat aku menjadi orang
yang tertutup sperti ini. Menjadi anak dengan mental yang lemah, Gampang
menyerah, tidak mampu percaya kepaad orang lain dan sangat mudah berfikir negative
pada orang lain.
Ya aku sperti itu,
Aku tahu tidak seharusnya aku
menyalahkan siapa2, bahkan bapak sekalipun. Aku bersikap kan atas kemauanku
sendri. Aku seharusnya ikhlas dan bisa menerima semua yang terjadi. Namun
sampai detik ini aku blum bisa ikhlas dan menerima semua ini. Sampai saat ini
aku masih menyalahkan orang lain untuk semuanya. Aku blum bisa ikhlas….Ya Allah aku
bingung dan gamang.
Ya Allah aku belum
rela dengan semua ini…….
.


